Pasokan Berkurang, Harga Produk Malaysia Mulai Merangkak Naik

Agen Pasar
Agen Pedagang pasar saat dimintai keterangan terkait harga gula pasir, terigu dan minyak goreng, Sabtu (19/06). Foto: Poskaltara

PK Online – Pasokan produk dari negeri jiran (Malaysia) ke Pulau Nunukan mengalami penurunan. Sesuai pantauan langsung di Pasar Inhutani pada Sabtu (19/06) pedagang dan warga mengeluhkan kurangnya stok gula pasir dan tepung terigu.

Seorang pedagang bernama Sansuddin menyatakan, khusus bahan pokok jenis gula pasir, terigu dan minyak goreng tidak lancar lagi dari Malaysia sejak empat hari terakhir. Hal ini memicu kenaikan harga ditingkat agen maupun eceran.

“Terigu sama gula pasir sudah tidak ada sekitar empat hari ini, jadi harganya juga ikut naik;” ungkap Samsuddin.

Baca Juga:  Wagub Kaltara: Kesigapan Masyarakat dan Efektifitas PPKM Mikro Tekan Penularan Covid-19

Ia menyebutkan produk Malaysia yang biasanya didatangkan melalui Sungai Nyamuk Pulau Sebatik mulai menurun sehingga pedagang mengalami kesulitan mendapatkan barang yang ingin mereka perjualbelikan.

“Biasanya barang-barang Malaysia masuk dari Sungai Nyamuk tetapi sekarang susah jadi tidak banyak yang bisa dijual,” tambahnya.

Masyarakat Kabupaten Nunukan lebih memilih gula pasir dari Malaysia karena harganya yang lebih murah serta kemasan yang kuat dan rapi. Sementara gula pasir produk Indonesia didatangkan dari Sulawesi Selatan harus dijual dengan harga yang lebih mahal.

“Harga gula pasir dari Malaysia biasa dijual Rp13.000 per kilo sementara yang dari Indonesia harus dijual Rp15.000. Belum lagi kemasannya kuat dan bagus tetapi yang dari Sulawesi (Selatan) hanya menggunakan plastik biasa,” kata Samsuddin.

Baca Juga:  Mencintai Kaltara, Zainal-Yansen Upayakan Produk Lokal Tembus Pasar Internasional

Sebelum pasokan berkurang dari Malaysia, harga gula pasir per dos isi 12 kilogram seharga Rp143.000-Rp147.000 dan sekarang seharga Rp150.000 per dos. Harga tepung terigu Rp90.000 per dos isi 10 kilogram dan sebelumnya Rp80.000 per dos.

Sementara harga minyak goreng asal Malaysia tidak mengalami kenaikan disebabkan ada stok produk Indonesia seperti merek bimoli yang mengimbanginya. “Kalau minyak goreng dari Malaysia tidak naik harganya karena ada juga minyak goreng dari Indonesia. Jadi produk Indonesia jadi penyeimbang,” ungkap Samsuddin.

Selain tiga komoditas di atas, tidak ditemukan kenaikan harga pada bahan pokok lainnya yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat Nunukan.(***)

Baca Juga:  Akses Perbatasan Dibuka, 120 Ton Sembako dari Malaysia Masuk Krayan

Penulis: Muhammad Syukri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here