Membangun Agrowisata Kakao di Perbatasan

Sebatik Pos-Kaltara.co.id – Desa Sungai Limau merupakan desa di Sebatik Tengah kabupaten Nunukan Kalimantan Utara yang memiliki patok perbatasan dengan Malaysia paling banyak. Dari 14 patok batas, desa Sungai Limau memili patok 5 hingga patok 13. Namun demikian, kesemua patok batas yang ada posisinya masih ditengah lading sehingga belum termanfaatkan dengan baik. Saat ini patok yang paling terkenal dan banyak dikunjungi pejabat negara ataupun wisatawan adalah patok 3 di Desa Aji Kuning Sebatik tengah. Letak patok tiga adaah di daerah perumahan dan dekat pelabuhan tak resmi Tawau Malaysia. Melihat banyaknya masyarakat yang ingin mengetahui dan melakukan selfi di patok 3, maka mahasiswa KKN UB memiliki ide untuk menjadikan salah satu patok batas sebagai obyek wisata. KKN Universitas Brawiajaya (UB) yang dilaksanakan selama bulan Juli 2019. Setelah dilakukan penerimaan mahasiswa KKN oleh bapak kepala Desa Sungai Limau dan Bapak Camat Sebatik Tengah dilakukan meninjauan lokasi bersama dengan aparat desa dan patok 7 dipilih karena beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah letaknya yang diatas bukit sehingga dari patok 7 dapat melihat Malaysia dan pemandangan alam yang indah.
Baca Juga:  Korban banjir di Sembakung menolak dievakuasi, kenapa?
Pada patok tujuh akan dibangun pabrik kakao sebagai pelengkap agrowisata dan gardu pandang. Nantinya setiap pengunjung patok 7 selain berpose di patok 7 juga dapat menikmati hidangan olahan kakao sambal duduk-dukuk di Gardu pandang. Gardu pandang adalah kreasi KKN dan doctor mengabdi yang akan dikembangkan bersamaan pembangunan pabrik. Selain produk dari pabrik, mahasiswa KKN UB akan mengajarkan warga untuk membuat produk olahan kakao, buah terap (terak) dan pisang yang dapat menjadi kuliner khas Sebatik Tengah. Saat ini kakao yang merupakan komoditas utama, belum memberikan dampak positif bagi warga. Warga hanya menjual biji kakao ke tengkulak asal Malaysia. Makin lama kakao kalau tidak dikembangkan nilai tambahnya akan tergeser oleh tanaman sawit yang bagi masyarakat dianggap lebih menguntungkan karena lebih mudah perawatannya. Begitu juga dengan pisang yang masih dijual segar dan buah terak yang hampir tidak termanfaatkan sama sekali.
Baca Juga:  Cagub Zainal A Paliwang Paparkan Program Kerja di Hadapan Masyarakat Sebatik
Oleh sebab itu. Meningkatkan nilai tambah kakao, pisang dan terap akan menjadikan patok batas sebagai bagian dari agrowisata diharapkan akan mampu meningkatkan perekonomian desa dalam  menjaga cinta NKRI [nht/Nn]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here