Korban banjir di Sembakung menolak dievakuasi, kenapa?

Banjir Sembakung Akibat Luapan Sungai Berhulu di Malaysia
Warga mengevakuasi sarana belajar di salah satu sekolah yang terendam banjir di Kecamatan Sembakung, Kamis (27/5)

PK Online – Banjir yang merendam delapan desa di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kaltara dengan 413 rumah terdampak dengan 562 kepala keluarga dan sebanyak 1.985 jiwa korban. Namun, warga terdampak banjir yang sewaktu-waktu naik ini menolak untuk dievakuasi ke tempat yang dianggap lebih aman.

Informasi ini diperoleh dari Ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Sembakung Abdullah melalui telepon selulernya, Kamis, 27 Mei 2021. Ia mengutarakan, luapan air Sungai Sembakung yang sudah mencapai 4,95 meter ini diperkirakan akan terus naik sehingga diperlukan kewaspadaan bagi warga yang terdampak.

Hanya saja, dari ratusan KK warga yang terdampak ini masih menolak untuk dievakuasi atau meninggalkan rumahnya. Malah bertahan dengan membuat tempat yang lebih tinggi dalam rumahnya untuk beristirahat dan mengamankan diri serta harta bendanya jika sewaktu-waktu terjadi banjir yang lebih tinggi lagi.

Baca Juga:  Pemkab Nunukan Vaksin 900 Dosis Untuk Pelayan Publik dan Masyarakat

Padahal, kata Abdullah, Pemkab Nunukan melalui relawan, Desa Tanggap Bencana (Destana) dan KSB telah menyediakan puluhan tenda darurat khusus bagi warga yang menjadi korban banjir ini.

“Ratusan kepala keluarga yang terdampak banjir tetapi menolak untuk dievakuasi pada tenda-tenda darurat,” ungkap Abdullah seraya menambahkan bahwa situasi semacam itu telah menjadi kebiasaan warga di daerah itu apabila terjadi banjir kiriman dari Malaysia ini.

Alasan warga setempat menolak dievakuasi karena sudah menjadi kebiasaan atau adanya kearifan lokal dengan istilah “pungkau” atau lebih dikenal dengan nama “parapara” yakni panggung yang dibuat dengan posisi tinggi dalam rumah masing-masing.

Baca Juga:  DPRD Nunukan Minta Refocusing Anggaran Memperhatikan Azas Manfaat

Menurut Abdullah, panggung dalam rumah ini memang telah menjadi upaya masyarakat setiap menghadapi banjir yang terjadi bebrapa kali dalam setahun itu.

Saat ini, kata dia, warga korban banjir sangat membutuhkan bantuan kebutuhan pokok sehari-hari (sembako), obat-obatan dan selimut.

Ketua KSB Sembakung ini menyebutkan delapan desa di Kecamatan Sembakung yang terdampak banjir kiriman ini adalah Butas Bagu, Lubak, Pagar, Tanjung (Kampung Lama), Manuk Bungkul, Atap, Lubakan dan Tagul.

Hasil pendataan yang dilakukan tersebut, belum ditemukan adanya korban jiwa. Relawan dan Pemcam Sembakung terus memonitor kondisi pada semua desa terdampak utamanya di Desa Atap dan Manuk Bungkul.

Baca Juga:  BNPB Bantu Dukungan Dana Penanganan COVID-19 Bagi Nunukan Senilai Rp717 Juta

Kemudian, membantu warga terdampak mengamankan harta bendanya dan mengimbau agar tetap waspada. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here