Tidak Sesuai Kesepakatan, Dana Bantuan PSR Diduga “Singgah” Di Tempat Lain

Petani Sawit Penerima PSR
Samsatir, Petani Sawit Yang Menerima Bantuan Dana Hibah Permajaan Sawit Rakyat, Sabtu (17/07). Foto: Poskaltara

PK Online – Tertarik dengan bantuan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebesar Rp25 juta perhektar, Samsatir dan rekan-rekan, masing-masing membuka rekening di Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Hal tersebut mereka lakukan usai sosialisasi yang digelar Ketua Gapoktan Mamminasae Abdul Latif di Gedung Astrada 88.

Namun, buku rekening yang petani miliki diambil Latif selaku Ketua Gapoktan Mamminasae untuk mencairkan dana hibah tersebut di bank.

Samsatir mengakui sempat menerima buku rekening dari Latif dan membenarkan telah menerima transferan dana sebesar Rp25 juta.

Hanya saja, lanjut Samsatir, dirinya mempertanyakan jumlah yang dia terima tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

“Kenapa hanya Rp25 juta ini? Bukannya Rp50 karena saya daftarkan dua Ha?,” katanya menanyakan kepada Latif.

Baca Juga:  MUI Kaltara Ajak Masyarakat Dukung Kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur Terpilih

Alasannya, kata Samsatir, Rp25 juta dari Rp 50 juta dipotong untuk membeli alat penebang dan pencacah pohon kelapa sawit dari Malaysia sehingga bisa cepat lapuk dan bisa jadi pupuk, membeli bibit super yang berasal dari Medan, Sumatera Utara dan upah pekerja serta biaya penanaman bibit baru.

Ia tak keberatan dengan hal tersebut. Menurutnya, dengan mempercayakan proses penebangan hingga penanaman baru kepada Ketua Gapoktan jauh lebih meringankan bebannya.

Namun, sisa dana yang tersisa di rekeningnya menjadi tidak bermanfaat baginya lantaran tidak bisa mencairkannya karena tidak diperbolehkan oleh pihak bank tempatnya membuka rekening .

“Waktu lebaran puasa baru-baru ini Latif pernah bawakan kertas warna merah muda mirip kertas pencairan di bank. Latif minta ditandatangan jadi kami tanda tangan saja,” ungkap dia.

Baca Juga:  Potensi Investasi Besar, Kaltara Siapkan SDM Kompeten

Kepada petani, lanjut Samsatir, Ketua Gapoktan Mamminasae tersebut menyebutkan hanya dirinya yang bisa mencairkannya lantaran dirinya sudah dikontrak selama tiga tahun.

Cuma, lanjut dia, setelah uang Rp25 juta tersebut cair, semua buku rekening petani diambil oleh Latif.

Anehnya, Samsatir bersama ratusan petani kelapa sawit yang tergabung dalam Gapoktan Mamminasae tidak pernah lagi menerima kembali buku rekening mereka dari Latif.

Mengenai bantuan Rp25 juta dari Rp50 juta yang berhak diterimanya, Samsatir menceritakan bahwa alat berat pencacah batang sawit yang dijanjikan sampai sekarang tidak pernah digunakannya.

Baca Juga:  Kunjungi Tapal Batas Negara, Gubernur Ingin Komunitas Asah Jiwa Nasionalisme

Padahal, janji Latif bahwa alat yang dibeli di Tawau Malaysia itu untuk keperluan semua petani yang menjadi anggota .

“Katanya itu alat berat ada tapi tidak pernah juga dilihat dan digunakan petani dengan alasan tidak bisa dipakai,” terang Samsatir.

Perihal bibit, Samsatir akui menerima bibit sebanyak 302 pohon untuk lahannya yang lebih dari dua Ha .Namun ia tetap meragukan spesifikasi bibit tersebut.

“Kata Latif , itu bibit bersertifikat yang dibeli dari Medan, tapi dia tidak pernah menunjukkan bukti pembeliannya jadi saya ragu jika itu bibit bersertifikat.

Penulis: Muhammad Syukri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here